Entri yang Diunggulkan

Sekilas tentang kombinatorika

Kombinatorika secara umum dikatakan sebagai "matematika  pencacahan"; lebih lengkapnya, ia adalah matematika  tentang pencacahan ...

Jumat, 04 November 2016

Dan perjalanan panjang itupun dimulai...

Kisah ini mengawali rangkaian masa studi saya jauh dari tanah air. Hari itu, suatu Sabtu di pertengahan September 2012, setelah perjalanan 18 jam Jakarta-Doha-Paris, pesawat yang saya tumpangi, sebuah Airbus A340 Qatar Airways, akhirnya mendarat di bandara Charles de Gaulle (CDG), Paris.

Setelah pesawat parkir dan pintu dibuka, para penumpang mengantri keluar dari pesawat melalui garbarata (belalai gajah).  Antrian masih terjadi sampai ke dalam gedung. Saya berpikir ada apa ya? Ternyata di ujung antrian telah menunggu beberapa polisi imigrasi. Mereka memeriksa paspor penumpang dengan teliti, mencocokkan foto di paspor dengan pemegangnya, dan kadang-kadang juga mereka menanyakan sesuatu kepada yang bersangkutan. Saya deg-degan juga, sebab ada satu-dua penumpang yang diminta minggir dulu, sepertinya ada masalah. Ketika tiba giliran saya, mereka memeriksa paspor saya. Alhamdulillah tidak ada pertayaaan apapun, dan saya dipersilakan untuk lewat.
Setelah pemeriksaan polisi, penumpang berjalan melalui travelator dan akhirnya sampai di loket imigrasi. Di sini kita mengantri lagi untuk cap imigrasi pada paspor. Seringkali petugas imiggrasi bertanya tentang tujuan kita ke Perancis, tinggal di mana, berapa lama, dan sebagainya. Kalau sudah ditanya-tanya begitu, bisa aja mereka minta kita tunjukkan dokumen pendukungnya, seperti surat keterangan diterima di universitas, surat keterangan tempat tinggal, dan sebagainya. Kalau dokumennya dianggap bermasalah atau kurang lengkap, kita bisa disuruh untuk minggir dulu, dan persoalan bisa jadi ribet nantinya. Akhirnya tiba giliran saya. Walaupun dokumen saya lengkap, tetap saja saya deg-degan. Saya menyerahkan paspor saya kepada petugas. Sang petugaspun memeriksanya. Tanpa bicara sepatah katapun, ia langsung mencap paspor saya. Yess!!

Antrian pos imigrasi. (http://www.parisgeo.cnrs.fr/)
Jalur keluar setelah ambil bagasi.

Setelah ambil bagasi, sayapun mencari pangkalan bus shuttle bandara. Sebagai informasi,  terdapat berbagai transportasi umum menuju bandara CDG, seperti: KRL (di sini disebut RER), TGV (kereta kecepatan tinggi), bus kota reguler,  dan bus  shuttle bandara.   Nah, saya memilih naik bus bandara, karena salah satu trayeknya, yaitu  no. 4, bertujuan  ke Gare de Lyon (salah satu stasiun besar di Paris untuk kereta-kereta jurusan tenggara Prancis, termasuk Dijon, kota yang saya tuju). Bus  ini dioperasikan oleh  Air France. Kala itu nama busnya "Les Cars Air France", namun sekarang menjadi "Le Bus Direct". Mungkin manajemennya bukan Air France lagi? Entahlah.
Bus Bandara Les Cars Air France
Metro RER 
Saat keluar dari gedung bandara, saya langsung diterpa oleh hawa dingin yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Suhu AC  terdingin yang pernah saya rasakan cuma 16 derajat. Yang saya alami sekarang ini mungkin di bawah 10 derajat. Brrr, tidak terbayang bagaimana suhu di musim dingin nanti yang suhunya katanya bisa sampai di bawah nol.

Setelah bus yang saya tunggu datang, para calon penumpang segera mengantri untuk naik dari pintu depan. Orang-orangpun antri dengan tertib untuk naik bus.
Bus tidak memiliki kondektur. Kita langsung bayar ke supir, bisa bayar tunai ataupun pakai kartu bank. Supirnya juga bisa bahasa Inggris. Setelah membayar 17,5  euro, saya pun langsung cari tempat duduk kosong. Oiya, koper besar sudah ditaruh di bagasi bus sebelum kita naik. Jadi yg kita bawa ke dalam cuma tas kabin saja.
Bus mengitari areal bandara untuk mengambil beberapa penumpang lagi di sejumlah halte. Keluar dari area bandara, bus melaju di jalan bebas hambatan sampai akhirnya sampai di Paris. Lokasi bandara CDG berada di luar kota Paris, seperti halnya bandara Soekarno-Hatta kita, yg berada di luar kota Jakarta.
Saat itu jam pulang kerja. Ternyata di Paris ada macet juga. Bedanya, macetnya tidak sampai total, dan tidak banyak motor seperti di Jakarta. Ini karena sistem transportasi massal di Paris sangat andal. Buspun berjalan di lalu lintas yang padat merayap. Saya berharap bus akan melintas dekat menara Eiffel, namun ternyata tidak karena rute yang dilalui tidak melintasi pusat kota. Sementara saya simpan dulu keinginan untuk melihat menara Eiffel. Saya akan kembali lain waktu.
Halte bus bandara di stasiun Gare de Lyon (parisinfo,com)

Begitulah, akhirnya bus tiba di halte Gare de Lyon. Haltenya tidak besar. Sejumlah penumpang termasuk saya turun untuk melanjutkan perjalanan. Sambil menggeret koper dan memikul tas ransel, saya celingak celinguk sebentar untuk mencari lobi stasiun. Tadi rasanya saya melihat stasiunnya, tapi kok sekarang nggak ada ya? Sebenarnya lokasi stasiun ada di belakang halte, namun tidak kelihatan karena posisinya lebih tinggi. Di belakang halte ada tangga untuk menuju lobi stasiun. Tapi karena saya tidak ngeh, saya ambil jalan memutar. Tapi sudahlah, yang penting saya sudah sampai di stasiun hehe... Tahap selanjutnya adalah beli tiket kereta dan berangkat ke Dijon!

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar